Sabtu, 11 Januari 2014

Maskot Jakarta yg Hampir Punah

Assalamualaikum WR. WB.

Bagi anda yg merasa penduduk Jakarta dan cinta sama Jakarta harus tahu maskot Ibu Kota  Negara Indonesia ini apa. Sebagian orang masih suka keliru dengan menganggap bahwa MONAS adalah maskot Jakarta, padalah maskot Jakarta ini adalah sebuah hewan dan buah yg sudah sangat jarang sekali kita jumpai. Sangat disayangkan jika maskot kita ini hanya akan menjadi tokoh fiktih di masa mendatang.

Baiklah ini dia maskot Jakarta yaitu adalah Elang Bondol dan Salak Condet. Sangat jarang adanya taman-taman kota atau ruangan hijau terbuka yg sebenarnya sangat kita butuhkan. Dan inilah mengapa Elang Bondol dan Salak Condet hampir punah, ya karena manusianya sendiri yg terlalu sibuk dan tidak berbagi tempat dengan mereka, semua lahan sudah habis dibangun gedung-gedung bertingkat, jalan layang, dsb, sekiranya saja ada disediakan lahan yg lebih besar untuk dijadikan taman atau suaka margasatwa atau semacamnya mungkin populasi flora dan fauna langka asal Jakarta tidak akan cepat punah serta bisa kita budidayakan. Saya akan coba sedikit menjelaskan tentang Elang Bondol dan Salak Condet agar kita lebih mengenal dan tidak hanya tahu nama atau wujudnya saja.

Elang Bondol
Burung Elang Bondol (Haliastur indus), berukuran sedang (45 cm), berwarna putih dan coklat pirang. 
Dewasa : kepala, leher, dan dada putih; sayap, punggung, ekor, dan perut coklat terang, terlihat kontras dengan bulu primer yang hitam. Seluruh tubuh remaja kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna berubah menjadi putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga. Perbedaan antara burung muda dengan Elang Paria pada ujung ekor membulat dan bukannya menggarpu.Iris coklat, paruh dan sera abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram.
Elang bondol (Haliastur indus) merupakan burung gagah yang telah tersingkir dari kehidupan belantara beton Jakarta. Maskot DKI Jakarta yang ditetapkan melalui Keputusan Gubernur No. 1796 Tahun 1989 ini pindah karena makanan favoritnya berupa ikan yang berada di perairan bersih sudah tidak tersedia lagi di Jakarta.

Salak Condet
Dulu, jenis salak ini banyak tumbuh di kawasan Cagar Budaya Condet, Jakarta Timur. Buahnya agak sulit dibedakan dengan jenis salak lain. Bentuk buahnya bulat telur terbalik mengarah ke bulat. Kulit buahnya bersisik agak besar dan berwarna cokelat sampai kehitaman. Daging buahnya tebal, masir, kesat, dan tak berair serta berwarna putih kekuningan. Rasanya bervariasi, dari kurang manis sampai manis. Salah satu keistimewaan salak condet adalah aromanya yang wangi. Bahkan, harum salak ini sudah tercium dari jarak sekitar 2 m. Ukuran buahnya bervariasi dari kecil, sedang, sampai besar. Produktivitasnya termasuk rendah.
Condet, merupakan  kawasan perkampungan tua masyarakat Betawi. Tepat ditengahnya mengalir Sungai Ciliwung membelah wilayah ini menjadi dua bagian, satu diwilayah Jakarta Selatan dan yang lainnya di Jakarta Timur. Wilayah Condet membentang dari  sebelah barat berbatasan dengan Jl Buncit Raya hingga Jalan Raya Bogor disebelah timur dan dari  Kecamatan Pasar Rebo disebelah selatan hingga Wilayah Celilitan disebelah utaranya.  Untuk menuju masuk ke wilayah Condet bagian Timur sangat mudah dari bagian untara bisa melalui PGC Cililitan melalui Jalan Raya Condet  dan bila dari arah selatan bisa melalui PP plaza Jalan Raya Simatupang masuk melalui Jalan Raya Condet juga. Dan Wilayah Condet Bagian Selatan dapat dengan mudah masuk dari arah mana saja, pokoknya Condet Pejaten ada di Kecamatan Pasar Minggu.


Sekian yg dapat saya ulas mengenai maskot ibu kota Republik Indonesia ini. Semoga kita akan semakin menyadari untuk menjaga dan merawat lingkungan demi melestarikan flora dan fauna khas yg kita miliki. Mohon maaf jika ada kesalahan kata dan informasi, silahkan berkomentar untuk memberitahu saya.

Terimakasih.
Salam

Burung Elang Bondol (Haliastur indus) Berukuran sedang (45 cm), berwarna putih dan coklat pirang. Dewasa: kepala, leher, dan dda putih; sayap, punggung, ekor, dan perut coklat terang, terlihat kontras dengan bulu primer yang hitam. Seluruh tubuh renaja kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna berubah menjadi putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga. Perbedaan antara burung muda dengan Elang Paria pada ujung ekor membulat dan bukannya menggarpu.Iris coklat, paruh dan sera abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram - See more at: http://blogmhariyanto.blogspot.com/2009/08/elang-bondol-haliaster-indus.html#sthash.ckAHkAGw.dpuf
Burung Elang Bondol (Haliastur indus) Berukuran sedang (45 cm), berwarna putih dan coklat pirang. Dewasa: kepala, leher, dan dda putih; sayap, punggung, ekor, dan perut coklat terang, terlihat kontras dengan bulu primer yang hitam. Seluruh tubuh renaja kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna berubah menjadi putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga. Perbedaan antara burung muda dengan Elang Paria pada ujung ekor membulat dan bukannya menggarpu.Iris coklat, paruh dan sera abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram - See more at: http://blogmhariyanto.blogspot.com/2009/08/elang-bondol-haliaster-indus.html#sthash.ckAHkAGw.dpuf
Burung Elang Bondol (Haliastur indus) Berukuran sedang (45 cm), berwarna putih dan coklat pirang. Dewasa: kepala, leher, dan dda putih; sayap, punggung, ekor, dan perut coklat terang, terlihat kontras dengan bulu primer yang hitam. Seluruh tubuh renaja kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna berubah menjadi putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga. Perbedaan antara burung muda dengan Elang Paria pada ujung ekor membulat dan bukannya menggarpu.Iris coklat, paruh dan sera abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram - See more at: http://blogmhariyanto.blogspot.com/2009/08/elang-bondol-haliaster-indus.html#sthash.ckAHkAGw.dpuf
Burung Elang Bondol (Haliastur indus) Berukuran sedang (45 cm), berwarna putih dan coklat pirang. Dewasa: kepala, leher, dan dda putih; sayap, punggung, ekor, dan perut coklat terang, terlihat kontras dengan bulu primer yang hitam. Seluruh tubuh renaja kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna berubah menjadi putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga. Perbedaan antara burung muda dengan Elang Paria pada ujung ekor membulat dan bukannya menggarpu.Iris coklat, paruh dan sera abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram - See more at: http://blogmhariyanto.blogspot.com/2009/08/elang-bondol-haliaster-indus.html#sthash.ckAHkAGw.dpuf
Burung Elang Bondol (Haliastur indus) Berukuran sedang (45 cm), berwarna putih dan coklat pirang. Dewasa: kepala, leher, dan dda putih; sayap, punggung, ekor, dan perut coklat terang, terlihat kontras dengan bulu primer yang hitam. Seluruh tubuh renaja kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna berubah menjadi putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga. Perbedaan antara burung muda dengan Elang Paria pada ujung ekor membulat dan bukannya menggarpu.Iris coklat, paruh dan sera abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram - See more at: http://blogmhariyanto.blogspot.com/2009/08/elang-bondol-haliaster-indus.html#sthash.ckAHkAGw.dpuf
Burung Elang Bondol (Haliastur indus) Berukuran sedang (45 cm), berwarna putih dan coklat pirang. Dewasa: kepala, leher, dan dda putih; sayap, punggung, ekor, dan perut coklat terang, terlihat kontras dengan bulu primer yang hitam. Seluruh tubuh renaja kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna berubah menjadi putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga. Perbedaan antara burung muda dengan Elang Paria pada ujung ekor membulat dan bukannya menggarpu.Iris coklat, paruh dan sera abu-abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram - See more at: http://blogmhariyanto.blogspot.com/2009/08/elang-bondol-haliaster-indus.html#sthash.ckAHkAGw.dpuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar